Saturday, March 18, 2017

Kisah sahabat - Umar bin khattab ra


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚
 Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Rumah tangga islami


*RUMAH TANGGA ISLAMI*
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

Islam memandang pembentukan rumah tangga adalah sesuatu yang sangat sakral dan sangat utama.... dia disejajarkan dengan jihad fii sabilillah dengan *_Mitsaqon Gholidzho_* (Perjanjian yang kokoh) bahkan pembentukan rumah tangga dengan diawali dengan pernikahan merupakan _Nishfuddin_(setengah dari keberagamaan) kita.
Tapi tampaknya lembaga rumah tangga yang diawali dengan pernikahan terjadi desakralisasi....... maraknya kasus Kehamilan Tidak Diinginkan di kalangan anak anak muda merupakan salah satu indikasi telah terjadinya proses desakralisai lembaga pernikahan.
Disisi lain lembaga rumah tangga yang harusnya menjadi miniatur negara idaman nyaris tanpa makna.
Betapa banyak masalah rumah tangga berujung bukan hanya di pengadilan agama bahkan banyak juga yang berujung di pengadilan negeri karena maraknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Oleh karena itu perlu upaya untuk membangun rumah tangga yang ideal... Rumah Tangga Islami.....

Seperti apakah .....?

*1. Seperti Masjid*
Alangkah indahnya rumah kita seperti  masjid yang didalamnya ditegakkan sholat sholat sunnah dan dikumandangkan dzikir dan tilawah quran. Bukankah sebaik baik sholat adalah di rumah kecuali di masjid. Bukankah kita dilarang menjadikan rumah kita seperti kuburan dengan cara sering membaca Al Baqoroh.

*2. Seperti Sekolah*
Ibu adalah sekolah pertama anak anak kita. Sederet kewajiban kita mentarbiyah anak anak kita menunjukkan pentingnya menjadikan rumah kita sekolah dan ibu adalah gurunya. Hasan Al Banna menganjurkan agar dalam rumah kita ada perpustakaan walaupun kecil.

*3. Seperti Benteng*
Gempuran lingkungan begitu dahsyat. Terkadang anak yang berada dalam lingkungan keluarga yang baik harus tergerus oleh lingkungan yang buruk.
_Kita memang tidak bisa membuat anak kita steril, tapi kita bisa membuat anak kita imun_.
Alangkah indahnya jika semua keluarga bercita cita membuat arus kebaikan dan berusaha sekuat tenaga merealisasikannya.

*4. Seperti Syurga*
Alangkah indahnya ungkapan nabi kita, _*Rumahku Syurgaku*_.
Kalau yang menjadi tolok ukur dunia tentu sulit kita bayangkan di tengah kesederhanaan rumah tangga beliau seperti syurga. Bukan itu ukurannya..... semua orang pasti betah berada dalam syurga....jadi bersedihlah jika suami kita, istri kita anak anak kita tidak ada yang betah di dalam.rumah kita.....
Bersedihlah ketika kita tidak bisa menghadirkan syurga di rumah kita.

Kita harus membangun visi besar kita dengan menjadiikan rumah kita syurga kita yang harapannya akan menghantarkan seluruh keluarga kita untuk berkumpul di syurga yang hakiki.... amin ya robb

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Friday, March 17, 2017

Antara Memaafkan dan Ngeles

Memaafkan atau ngeles?

Memaafkan atau membela diri?

Mana yang lebih utama, membalas atau memaafkan orang yang berbuat buruk kepada kita?.
Sebab Alloh SWT mewahyukan :

ΩˆΨ§Ω„Ψ°ΩŠΩ† Ψ₯Ψ°Ψ§ Ψ£Ψ΅Ψ§Ψ¨Ω‡Ω… Ψ§Ω„Ψ¨ΨΊΩŠ Ω‡Ω… ΩŠΩ†ΨͺΨ΅Ψ±ΩˆΩ†

"Dan (bagi) orang orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri. "
(Asy-Syuro,42:39)

Dan dalam ayat yang lain Alloh SWT mewahyukan :

فمن عفا ΩˆΨ£Ψ΅Ω„Ψ­ فأجره ΨΉΩ„Ω‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‡

"Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Alloh SWT. "
(Asy-Syuro, 42:40)

Sayyid Iddrus bin 'Umar Al-Habsyie ra berkata :

Sebenarnya yang lebih utama adalah memaafkan, tetapi kadang kala membela diri menjadi lebih utama jika yang berbuat buruk adalah orang kafir.
Kita tidak boleh menyerah kepada orang kafir, bahkan wajib melawannya sekuat tenaga.
Sebab menyerah kepada orang kafir akan melemahkan Islam, melukai hati dan menghina kaum muslimin.
Kita diizinkan untuk menyerah atau membela diri kepada seorang Muslim.
Tetapi memaafkan jauh lebih utama selama tidak menodai salah satu kehormatan agama.
Jika kehormatan agama ternodai, maka kita tidak boleh menyerah dan wajib membela agama Alloh SWT, bukan karena hawa nafsu.

Iddrus bin 'Umar Al-Habsyie, An-Nahrul Maurud min Faidhil Karam wal jud, t.t.,t.p.,manuskrip.

Sayyid Iddrus bin 'Umar Al-Habsyie, op.cit.,hal.42-43