*Fadhilah Menyantuni Anak Yatim di Bulan Suci Muharram*
Fadhilah di bulan Muharram salah satunya adalah Menyantuni anak yatim. Kegiatan tersebut adalah salah satu sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Anak-anak yatim tentunya adalah mereka yang sudah tidak memiliki ayah, padahal ia masih membutuhkan sosok dan nafkah dari sang Ayah. Untuk itu, Rasulullah memberikan contoh pada umat islam untuk mengasih anak yatim.
*Perintah Menyantuni Anak Yatim dalam Al-Quran*
Di dalam Al-Quran ada banyak sekali perintah untuk menyantuni anak yatim terutama di bulan Muharram. Perintah ini terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran dan Allah memberikan balasan keras bagi mereka yang mendzalimi anak yatim apalagi mengambil hartanya dengan cara yang zalim. Itulah mengapa menyantuni anak yatim merupakan salah satu fadhilah di bulan Muharram.
1. Perintah Berbuat Baik Pada Anak Yatim
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS An-Nisa : 36)
2. Jangan Mendekati Harta Anak Yatim
“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Isra : 34)
3. Jangan Memakan Harta Anak Yatim Dengan Zalim
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS An Nisa : 10)
*Hadist Tentang Keutamaan Anak Yatim*
Tidak hanya di dalam Al-Quran, dalam hadist pun terdapat informasi mengenai keutamaan menyantuni anak yatim. Ada beberapa keutamaan anak yatim sehingga bagi kita yang menyantuninya akan mendapatkan balasan yang besar.
1. Balasan di Surga
“Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya (HR Bukhari)
Hal ini disampaikan juga dihadist lain bahwa,
“Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (HR.Tirmidzi)
2. Pahala Seperti Berjihad
“Berbahagialah orang-orang yang di rumahnya terdapat anak yatim karena Rasulullah memberikan jaminan pertama, memiliki pahala yang setaraf dengan jihad. Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Ibnu Majah)
3. Mendapat Perlindungan di Hari Kiamat
“Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt. tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. AT – Thabrani)
Broadcast dari Sosial Media
silahkan di share jika bermanfaat.
hubungi admin jika ada kesalahan, supaya diperbaiki.
#taulebihdulu
#lebihdulutau
Tuesday, September 18, 2018
Sebuah narasi percakapan iblis kepada anak buahnya
بسم الله الرحمن الرحيم
Sebuah narasi percakapan Iblis kepada anak buahnya :
"Jika kau ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah dulu ibunya!!"
beri ia perasaan akan rasa lelah bertubi yang membuatnya merasa lemah dan habis energi
jika ia sudah merasa lelah, ambil rasa syukurnya
biarkan ia merasa bahwa hidupnya habis untuk mengurus keluarga dan buatlah ia tidak memiliki apapun, selain lelah yang didapatnya
setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah ia menjadi orang yang tidak percaya diri
sibukkan pandangan matanya untuk melihat kebahagiaan orang lain dan buatlah ia lupa akan kebaikan yang ia miliki,
buatlah ia merasa minder dan merasa tidak berharga
jika itu sudah terjadi, ambilah juga sabarnya,
gaduhkan hatinya agar ia merasa ada banyak hal yang berantakan dalam rumahnya, buatlah ia merasa betapa banyak masalah yang ditimbulkan dari anaknya, dari suaminya
goda lisannya untuk berkata kasar,
Hingga nanti anak-anak mencontohnya dan tak menghargainya lagi, lalu bertambahlah kemarahan demi kemarahan, hilanglah aura syurga dalam rumah
dan kau akan menemukan perlahan, rumah itu rusak…dari pintu seorang IBU
....
Sekali lagi, makhluk penting itu bernama Ibu,
Lelah yang tidak selesai menjadi tempat masuknya syetan,
Ia mengambil bahagiamu, mengambil sabar dan syukurmu wahai ibu,
Jangan biarkan syetan mengambil itu,
Jika kau lelah, rehatlah.
Jika kau lelah, berbagilah
Sungguh tak ada satupun yang akan membiarkanmu merasa sakit sendiri
jika kau pandai menghargai dirimu,
Ringankan tugasmu bu,
Jangan menekan dirimu terlalu keras,
Sesekali tak masalah rumahmu kotor
tak masalah betapa banyaknya pekerjaan yang belum kau tuntaskan
Jangan terjebak dalam waktumu bu,
sungguh tugas muliamu jauh lebih penting dari sekedar rutinitas yang kau lakukan setiap harinya
rehatlah,
Jika pun tak mungkin kau tempuh jarak puluhan kilo untuk segarkan diri,
Sekedar menepi, menepilah
beri waktu untuk dirimu sendiri,
Sekedar melihat betapa banyak kebaikan yang kau punya,
betapa manisnya keceriaan anak-anakmu,
betapa bertanggungjawabnya suamimu,
rasakan pelukannya,
ada cinta dan ketulusanmu dalam tegap badannya
Kau berharga ibu, jangan pernah lupakan itu.
tapi, saat mendengar masalah orang lain,kita semakin sadar bahwa perspektif kita menentukan cara pandang kita terhadap masalah
jika kita melihat peran ini sebagai beban,maka kita hanya akan sampai pada titik lelah
jika kita memandang diri hanya sebatas pelaku rutinitas,kita tidak akan menemukan ruhnya
rewarding your self mom,
sungguh peranmu jauh lebih besar dari semua keluhanmu
jangan biarkan syetan merusak bahagia dengan mengambil rasa SABAR dan SYUKURMU
karena dari bahagiamu, tercipta ketahanan sebuah keluarga
Baarakallahu fiikum...
Selamat menjemput surga dlm aktivitas sebagai Ibu dan Istri yang HEBAT.
Selalu ada BAHAGIA di segala cuaca 😍
@Renungan untuk para ibu ibu sholihah,,,, 🙏❤
Sebuah narasi percakapan Iblis kepada anak buahnya :
"Jika kau ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah dulu ibunya!!"
beri ia perasaan akan rasa lelah bertubi yang membuatnya merasa lemah dan habis energi
jika ia sudah merasa lelah, ambil rasa syukurnya
biarkan ia merasa bahwa hidupnya habis untuk mengurus keluarga dan buatlah ia tidak memiliki apapun, selain lelah yang didapatnya
setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah ia menjadi orang yang tidak percaya diri
sibukkan pandangan matanya untuk melihat kebahagiaan orang lain dan buatlah ia lupa akan kebaikan yang ia miliki,
buatlah ia merasa minder dan merasa tidak berharga
jika itu sudah terjadi, ambilah juga sabarnya,
gaduhkan hatinya agar ia merasa ada banyak hal yang berantakan dalam rumahnya, buatlah ia merasa betapa banyak masalah yang ditimbulkan dari anaknya, dari suaminya
goda lisannya untuk berkata kasar,
Hingga nanti anak-anak mencontohnya dan tak menghargainya lagi, lalu bertambahlah kemarahan demi kemarahan, hilanglah aura syurga dalam rumah
dan kau akan menemukan perlahan, rumah itu rusak…dari pintu seorang IBU
....
Sekali lagi, makhluk penting itu bernama Ibu,
Lelah yang tidak selesai menjadi tempat masuknya syetan,
Ia mengambil bahagiamu, mengambil sabar dan syukurmu wahai ibu,
Jangan biarkan syetan mengambil itu,
Jika kau lelah, rehatlah.
Jika kau lelah, berbagilah
Sungguh tak ada satupun yang akan membiarkanmu merasa sakit sendiri
jika kau pandai menghargai dirimu,
Ringankan tugasmu bu,
Jangan menekan dirimu terlalu keras,
Sesekali tak masalah rumahmu kotor
tak masalah betapa banyaknya pekerjaan yang belum kau tuntaskan
Jangan terjebak dalam waktumu bu,
sungguh tugas muliamu jauh lebih penting dari sekedar rutinitas yang kau lakukan setiap harinya
rehatlah,
Jika pun tak mungkin kau tempuh jarak puluhan kilo untuk segarkan diri,
Sekedar menepi, menepilah
beri waktu untuk dirimu sendiri,
Sekedar melihat betapa banyak kebaikan yang kau punya,
betapa manisnya keceriaan anak-anakmu,
betapa bertanggungjawabnya suamimu,
rasakan pelukannya,
ada cinta dan ketulusanmu dalam tegap badannya
Kau berharga ibu, jangan pernah lupakan itu.
tapi, saat mendengar masalah orang lain,kita semakin sadar bahwa perspektif kita menentukan cara pandang kita terhadap masalah
jika kita melihat peran ini sebagai beban,maka kita hanya akan sampai pada titik lelah
jika kita memandang diri hanya sebatas pelaku rutinitas,kita tidak akan menemukan ruhnya
rewarding your self mom,
sungguh peranmu jauh lebih besar dari semua keluhanmu
jangan biarkan syetan merusak bahagia dengan mengambil rasa SABAR dan SYUKURMU
karena dari bahagiamu, tercipta ketahanan sebuah keluarga
Baarakallahu fiikum...
Selamat menjemput surga dlm aktivitas sebagai Ibu dan Istri yang HEBAT.
Selalu ada BAHAGIA di segala cuaca 😍
@Renungan untuk para ibu ibu sholihah,,,, 🙏❤
Konsep rezeki
*KONSEP REZEKI*
Suatu ketika, Saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya...
"Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak."
Sang guru pun menjawab...
Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja.
Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.
Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.
Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.
PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.
LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.
sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.
Setelah Anda tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak. Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.
#selfreminder
Suatu ketika, Saya pernah datang kepada seorang guru dan bertanya...
"Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak."
Sang guru pun menjawab...
Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja.
Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.
Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.
Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.
PANJANG Kotak itu melambangkan USAHA/IKHTIAR dalam menjemput rejeki.
LEBAR Kotak itu melambangkan ILMU yang dimiliki oleh seseorang.
sedangkan TINGGI melambangkan IBADAH dan RASA SYUKUR yang dimiliki seseorang.
Setelah Anda tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu aja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak. Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.
#selfreminder
Subscribe to:
Posts (Atom)